​Kepalsuan di Pekarangan Rumah?


Beranda, Pekarangan Rumah, dan Tetangga

Labuan Bajo, 6 Juli 2017 di jelang siang…

Sekira sejam lamanya saya membersihkan daun-daun kering di pekarangan rumah kami yang jatuh dari pohon. Padahal, daun-daun kering itu tampak tidak begitu banyak, rupanya saya harus menanggalkan baju saya karena keringat selama memindahkan dedaunan kering itu dan membersihkan sampah lainnya.
Setelah lumayan bersih, daun-daun kering ini biasa akan dibakar sore nanti di depan pagar rumah bersama sampah lainnya. Di lingkungan kami, tempat pembuangan sampah untuk umum memang belum tersedia. Jadi, mungkin tak ada jalan lain selain dibakar saja.
Hembusan angin di pekarang rumah terasa sejuk meski siang di sini terasa panas sekali. Untungnya rumah kami di lingkungan ini banyak pohon. Suara kicauan burung terus terdengar. Kupu-kupu yang warnanya kuning itu masih terbang ke sana-ke sini, sesekali ada lewat juga kupu-kupu yang warnanya putih dan kupu-kupu warna hitam coraknya putih. Kupu-kupu itu hinggap di daun pohon-pohon gamal dan bunga pagar yang menjadi pagar pembatas pekarangan rumah dan tetangga.

Bangunan rumah di Waenahi memang masih jarang, sementara itu beberapa rumah baru dan warga baru di sini juga sedang dibangun (termasuk keluarga kami, sejak 2014). Rumah-rumah yang berdiri masih kalah banyak dengan lahan kosong yang banyak tumbuh pohon-pohon. Tak jarang ada tumbuhan liar dan juga sebagian dijadikan kebun.

Saya coba ambil posisi berbaring di bale-bale. Rupanya bale-bale bambu yang baru dipindahkan dari posisi sebelumnya, di depan rumah, jelang siang sinar matahari tidak langsung menyentuh seluruh pekarangan rumah. Setengah pekarangan rumah menjadi teduh sebab bangunan rumah yang menghalangi jatuhnya sinar matahari.
Saya amati dan nikmati, kejadian ini sebetulnya baru saya sadari hari ini. Padahal, hampir sebulan saya medapati waktu liburan lulus kuliah dan berlebaran di rumah bersama keluarga.

Tak lama pandangan saya jatuh ke pot bunga yang di pajang dengan penuh percaya diri di tepi beranda depan rumah. Isinya bunga mawar buatan yang dipajang bersama bunga dan pohon-pohon alami lainnya. Hmm.

Hanya gara-gara mawar palsu itu saya lantas terlintas pikiran begini: kayaknya, kita kadang baru menyadari ke-alami-an yang  sesungguhnya dekat dari kita, tetapi mungkin setelah kita telah jauh mencari kepalsuan![]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s