​Bila ‘Mesin Hitung’ di Pundak Para Gaptek


“Keterampilan tentang apapun itu, bisa kau dapatkan dari praktik yang berulang-ulang, lakukan saja terus-menerus”, kata seorang teman yang lebih tua meyakinkan. Pikiran saya lantas menggiring saya ke dalam dan di antara apa-apa yang telah berlalu dan yang berselang.

Di jenjang kuliah diketemukan dengan hal-hal yang belum pernah saya jumpai sebelumnya, yang saya senangi, mudah bagi saya ‘teralihkan’ di jelang tahun kedua kuliah daripada pelajaran di dalam kelas. Meski kolom absensi kerap tak sempat saya penuhi dengan semestinya padahal biaya kuliah tertib saya sodorkan. Dibagian yang ini saya kadang akui bahwa termasuk orang-orang yang untungnya sedikit. Sayang sekali, saya sering kali kalah bila harus berkompromi dengan diri soal itu. Entah. Kesempatan belajar di luar kelas kadang lebih menggairahkan.

Meninggalkan kampung halaman sementara waktu dan memilih kuliah di daerah lain adalah kesempatan yang paling beruntung. Sebab di keluarga saya, hanya ayah saya yang mendapatkan kesempatan itu. Tak terkecuali bahwa di lingkungan kami tinggal selain belum ada kampus yang berdiri, setidaknya semarak orang-orang untuk melanjutkan sekolah ke jenjang kuliah lebih tampak sejak 2008.

Bersama tiga teman sepantaran saya dari kampung akhirnya tiba di Makassar sekira dua pekan sebelum Agustus, 2009. Harapan besar untuk segera mendapatkan informasi tentang bidang akademik yang belum juga kami tentukan. Sementara kami hanya memiliki kesempatan terakhir menawarkan diri di salah dua kampus swasta di kota ini yang tinggal beberapa hari lagi. Lantas kami memilih jurusan yang sama hanya karena serta merta tidak tahu-menahu saja mengoperasikan komputer. Rupanya tak ada pilihan jurusan lain di fakultas tempat kami menawarkan diri, pilihan kami jatuh bersama-sama di jurusan Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Muslim Indonesia.

Mula sekali alasan memilih konsentrasi belajar komputer sebab itu terasa keren saja, selain memang akses dan informasi yang terbatas di daerah asal kami, yang sepertinya mempengaruhi pengetahuan kami daripada pilihan akademik kami itu. Bila bukan bidang keguruan seperti bidang olahraga dan matemetika, biasanya sedikit banyak pilihan jatuh di bidang kesehatan. Jika tidak, biasanya mengikuti testing polisi atau tentara. Atau bila tidak sama sekali, sementara waktu membantu usaha orang tua meski teman kami ada juga yang belum seberuntung kami.

Di antara kami, seorang teman saya sejak kecil sudah akrab dengan komputer pribadi milik ayahnya. Sejak sekolah dasar dia memang sudah mengenali komputer. Saya menduga, jangan-jangan sedikit banyak pilihan kami ini dipengaruhi cerminan dari dia. Informasi tentang perkomputeran terasa lebih dekat dan mudah sekali dijangkau dari dia. Ikut teman, ikut pula tergiring.

Tahun pertama kuliah adalah bagi saya dan dua kawan saya anyar mengejar pengetahuan awam soal komputer. Melulu kami berkutat di persoalan teknis. Lumayan tekun mencari tutorial lalu mempraktikkan cara mengoperasikannya. Itu sudah termasuk menguji keberanian pertama kami menghidupkan komputer. Dan yang ingin saya lakukan pertama kali adalah mau tahu cara memutarkan sebuah lagu di mesin hitung itu.

Padahal pelajaran di kelas yang diberikan adalah pelajaran lanjutan. Lantaran tidak jarang kami kalah banyak daripada materi-materi yang diberikan kadang berbentur dengan pengetahuan awam kami yang terbatas. Rupanya sebagian dari teman kelas saya pun mengalami hal yang persis, kami adalah golongan yang termasuk telat beruntung. Memelintir judul buku Puthut EA, ‘gagap tehnologi saja kami tak punya’. Belakangan pikir saya, mungkin hanya soal akses dan informasi di ‘kampung kami’ yang memang sangat terbatas itu. Kecuali sejak internet semeriah sekarang. Yang kami ketahui bahwa dulu pilihan kami sudah betul.

Rupanya keberuntungan datang setelah beberapa bulan memiliki teman-teman baru. Seorang teman sekelas yang baik hati yang orang asli dan tinggal di kota ini lantas meminjamkan komputer tua milik keluarganya. “Ambil miki di rumah, bisa di pake itu komputer di gudang”, kata dia mungkin dengan cara menyampaikan prihatinnya.

Komputer pentium yang lama tak terpakai itu dia hibahkan untuk kami operasikan sesukanya. Ini adalah kesempatan belajar terbaik yang saya miliki, sebab keraguan besar dahulu untuk menyentuh mesin ini sekalipun diotak-atik sampai rusak sudah direstui sang pemilik barang. Nasib mesin itu ada di tangan kami.

Setahun lamanya komputer itu bersama kami di kamar kontrakkan. Saya sekamar dengan salah satu teman akrab yang saya sering sebutkan di atas. Baiknya saya sebutkan saja, dia Amir Hamsa yang sudah lebih dulu menyelesaikan studinya dan kini telah kembali ke kampung. 

Tahun-tahun berikut komputer itu berpindah ke kelompok belajar yang sempat dibentuk sebab kesamaan harapan dibidang komputer. Sebuah kontrakkan rumah (lebih berupa kamar kos berukuran lumayan besar) yang lebih dulu Hamsa kontrakkan, dan belakangan sebagian dari teman kelas mencarter biaya dibagian tertentu. Dia yang menjadi semacam ketua kelas di tempat ini hanya karena dia yang mengurusi dan tinggal didalamnya.

Sebagian angkatan pertemanan kami sering menyebut kita ‘anak System32’, barangkali setelah tahun pertama kuliah kami memang kerap rajin bertemu. Penamaan yang dipinjam dari istilah dalam direktori utama sistem operasi Windows yang menyimpan file-file penting yang  menjadi incaran virus-virus komputer.

Kelas belajar ini kerap digelar dengan model piket dan cicilan yakni menentukan siapa mandor dan materi apa saja yang disetor acap kali bertemu. Belakangan selain kelas belajar, rupanya usaha kecil advertising dicoba pula selain menutupi biaya keadaan selama di Makassar. Para awak disana menamainya ‘Cloudsys’ yang bertahan hingga sebagian dari kami satu per satu menyelesaikan studi. Seorang teman dari kami bahkan sempat mengangkat topik tugas akhirnya untuk membikin aplikasi bisnis untuk mengelola Cloudsys ini.

Belakangan saya jarang lagi bertemu mereka ketika durasi kuliah semakin mendekati tingkat akhir sebab suatu kesenangan lain. Tetapi, di waktu yang lain kami sering bertemu di tempat itu meski sekadar mengobrolkan sesuatu yang rumit hingga yang remeh-temeh. Dan menyuruput teh gelas yang di beli di warung terdekat dan minum kopi jika tersedia. 

Bila itu tak pernah terjadi, saya membayangkan bahwa mungkin sebagian dari kita dihantui sikap inferior hanya karena berkali-kali dibenturkan dengan pilihan yang sempat kami anggap keliru sejak awal.

*bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s