​Dari Cinta yang Bersemi di Jalan Kampung Bajo


Seorang anak SMA tingkat dua setidaknya pernah menganggap bahwa di suatu hari di penghujung cahaya matahari yang menguning ialah pewaktuan untuk menitip inginnya—baginya kepada senja.

Kecil cara pemaknaan itu pernah tumpah-menjelma-menjadi deret kata-kata yang Ia pilih dari cermin kediriannya, yang sengaja ditulisnya untuk seorang perempuan yang Ia hormati (baca: puja).

Berjalan hingga jenjang kuliah, belakangan dirinya mengetahui bahwa puisi kecilnya ini tersimpan baik. Idolanya menyisihkannya selama itu. Lelaki ini tentu gembira mengetahui kabar itu, setidaknya untuk beberapa warsa.

***

Mereka bertemu di antara dua sisi berpandangan pada bening kaca jendela yang melintang di sebelah kanan pintu masuk sebuah rumah makan. Di depannya bertuliskan ‘rumah makan nasi Padang’ berbahan stiker scotlite berwarna merah. Dulu, sebagian warga setempat mengaggap bahwa tempat makan ini adalah ideal lantaran harganya yang terjangkau.

Lelaki ini memang kerap berjalan kaki dan melintasi tempat itu, tetapi hanya untuk mencuri kesempatan melihat sosok pujaannya itu meski dari bilik jendela kaca. Ia bahkan tahu betul kapan idolanya ini meluangkan waktu membantu orangtuanya berjualan.

Diambang cerita, beberapa pekan lalu lelaki itu kembali membuka obrolan bersamanya via blackberry messanger. Katanya, kabar idolanya itu baik-baik saja dan tahun depan teman perempuannya ini akan menyelesaikan kuliahnya dan mungkin akan kembali ke kampung halaman.

Hari ini lelaki itu melintas di jalan itu lagi. Rumah sang idola berdiri persis berhadapan dengan satu-satunya kantor pos di kampung halaman mereka. Jika mendekati lokasi itu, Ia kerap terpikirkan kepada sesuatu, ingatan masa remajanya.

Kini rumah makan sang idola telah berubah menjadi bangunan lain sebagai bilik layanan penyedia informasi tentang perpelancongan. Sedikit banyak telah ada yang berubah. Bangunan-bangunan sepanjang jalan itu memang tampak elok sejak wisata komodo semakin mendatangkan keuntungan (baca: sail komodo).

Dalam ingatan lelaki itu, di tepi jalan ini berdiri rumah-rumah dengan model rumah panggung—dominasi model rumah panggung yang berdiri di Kampung Bajo. Salah satunya adalah rumah makan sang idola, rumah panggung tua dengan dinding berwarna hijau gelap. Kaki rumah makan itu berdiri sekira dua meter dan tampak menjadikan lantai dua rumah ini setara dengan tinggi ruas jalan. Rumah panggung yang lantas disewa orangtua idolanya mengais rezeki.

Untuk seukuran kota yang mungkin paling mungil, sebagai ibu kota kabupaten yang kukuh—yang sejak 2003 dimekarkan dari kabupaten Manggarai—dimana jalan utama itu membentang dan membelah empat Kampung Bajo, lantas menjadi titik-titik yang ramai. Jalan yang dianggap menjadi sentra kegiatan ekonomi.

Sepanjang tepi bagian barat kota, berderet kafe-kafe, pasar kuliner, warung pulsa dan pernak-pernik handphone, centra pemasok dan penjualan ikan, pelabuhan, bilik-bilik pelayanan informasi wisata, rental motor, warung-warung kecil, kedai kopi, toko pakaian, toko barang dan perabot rumah tangga, warung makan, salon dan pangkas rambut, toko cendramata, jasa penjahit, lapak-lapak penjual kue, mini market, restoran, hotel, losmen, serta berbagai usaha kecil warga dan usaha pendukung perpelancongan lainnya mengambil tempat di lintang jalan itu. Cinta monyet lelaki itu bersemi di jalan ini.

Di jalan raya satu arah itu, siapa pun yang berada di kota sekecil ini akan senantiasa melintasinya. Sebab bukan pilihan lain, memutuskan berkendaraan di Labuan Bajo berarti Anda akan melintasi jalan ini lagi, bahkan sesering mungkin. Serius! 

Menjelang siang lelaki itu berlalu dengan cepat di jalan itu, jalan yang diberi nama Soekarno-Hatta (?) Bukan selayaknya rindu atau keinginan kuat ingin bertemu sang idolanya lagi. Tetapi, adalah arah pulang yang harus di tempuh, merasakan sela demi sela perubahan sepanjang jalan itu, lalu menuju ke rumah dan menemui sahabat-sahabat kecilnya lagi. Lelaki itu sebetulnya adalah saya. []

●Labuan Bajo, 1 Desember 2016.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s