Selamat Ulang Tahun Bagi Diri


wp-1464162493637.jpeg
Membaca diri lewat buku tulis tangan (UPKSBS UMI 2012-2014)

Saya mengira satu jam lagi Ibu saya bakal bersandar di pelabuhan Makassar.

Ibu saya berkunjung kesekian kalinya ke kota ini dengan alasan adik saya yang kedua wisuda di akhir bulan ini. Juga sekaligus datang bersama adik saya yang keempat untuk didaftarkan di kampus negeri di kota ini. Adik saya yang ketiga juga sudah tahun kedua berkuliah disini. Akhirnya kami berempat di pertemukan disini. Di kota yang punya banyak peruntungan, kata orang sih begitu.

Sampai di paragraf ini kapal belum juga bersandar di pelabuhan. Sementara menunggu kapal berlabuh, saya masih bersempat menggeladah kardus berisi buku-buku fotokopian kuliah di sudut kamar kosan.

Yang saya cari foto yang saya selip di atas. Itu buku catatan saya waktu awal menjadi pengurus di UKM Seni UMI. Sampulnya dengan logo yang bukan dengan teks tambahan properti di bawahnya, seperti yang ditempel sebagai stiker di alat-alat rumah tangga di sekretariatnya. Maaf, sebab ini properti pribadi—yang mungkin isinya serupa milik kau, dia atau mereka.

Di paragraf ini masih juga Ibu saya belum menelpon. Kata adik saya yang kedua kapal belum bisa menepi karena menunggu antrian berlabuh. Kapal lainnya masih bongkar-muat barang dan penumpang.

Seperti biasa dengan kondisi begitu kapal akan mengantri selama kurang lebih tiga jam. Dengan begitu saya masih sempat membuka perhalaman buku catatan saya itu.

Baik! Ini paragraf milik saya. Di paragraf ini saya masih bisa perlahan mengetik catatan kecil ini untuk saya jadikan hadiah ulang tahun untuk saya sendiri. Selamat! Selamat! Selamat, kita akan memasuki paragraf berikut. Paragraf yang berulang tahun hari ini.

*

Selamat Ulang Tahun UPKSBS UMI. Terima kasih telah menjadi benda mati yang berulang tahun yang dirayakan oleh siapa saja yang menghidupimu atau menghidupi dirinya sendiri. Selamat ulang tahun untuk saya, dia, dan kamu atau siapa saja yang merayakan kebahagiaannya sendiri. Tetaplah menjadi benda mati yang hidup sebagai “ruang-mengalami” dan “ruang-menjadi”.

Sementara itu kapal masih berlabuh bongkar-muat muatan dan kapal lain menunggu gilirannya. Ibu saya sudah tidak menelpon. Barangkali setiap penumpang kapal sama. Sama-sama bersiap menunggu tepi dan menumpahkan rindu pada daratan.

Makasaar, 25 Mei 2016 | 13.44 WITA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s