Terima Kasih Telah Mencuri Masa Depan


Apple ilustrasi copy
Ilustrasi: Ade Awaluddin Firman

“Cara terbaik untuk meramal masa depan adalah dengan menciptakan masa depan itu sendiri” ~ Steve Jobs ~

Pertemuan Paul Jobs dan Clara Hagopian berlanjut menjadi sebuah pernikahan yang bahagia. Keluarga yang sesungguhnya hanya ingin hidup tenang setelah masa perang dunia II dan menjalani kehidupan yang tidak banyak berisi kejadian penting.

Selama sembilan tahun, Clara yang mengalami kelahiran diluar rahim membuat mereka ingin mengadopsi anak. Seorang anak angkat yang lahir diluar nikah dari keluarga muslim Suriah termuka dan keluarga keturunan Jerman di pedesaan Wisconsin.

Paul dan Clara dipertemukan dengan anak yang kenyataannya ditelantarkan dari hubungan sepasang kekasih mahasiswa pasca sarjana yang tak direstui. Mereka memberi nama bayinya Steve Paul Jobs.

Steve pun tumbuh bersama keluarga barunya itu dengan konsep kedirian yang diterlantarkan orangtua kandung sejak lahir, kemudian terpilih bersama pasangan suami-istri yang bahkan tidak lulus sekolah menengah keatas dan akhirnya menjadi anak yang istimewa.

Tentu tidak dengan begitu saja menjadi istimewa. Selain sejak berumur dua tahun Steve yang memang banyak diwarisi keahlian dari Paul, ayah angkatnya ini, yang terampil dibidang permesinan dan mobil. Mulai merasa istimewa setelah menyadari bahwa Ia bahkan lebih cerdas dari Ayahnya dibidang elektronik. Steve akhirnya menemukan dirinya begitu jatuh cinta dibidang itu.

Tempat orangtua angkat dan dirinya tinggal kenyataannya mempengarungi Steve tumbuh-kembang, setelah berpindah-pindah rumah karena keuangan keluarga yang tak banyak beserta kondisi pengaruh lingkungannya yang berbeda.

Lingkungan perumahan yang ditempati terakhir, berkembang karena investasi militer dan banyaknya keberadaan perusahaan yang bergerak dibidang komputer dan semikonduktor di Palo Alto, California. Daerah yang dijuluki sebagai Silicon Valley. Masa kecil Steve yang diciptakan Paul dan Clara merupakan streotip dari akhir 1950-an, di kawasan itu, selama dimana meledaknya masa kebangkitan industri.

Kecerdasan istimewa dalam dirinya tampak menonjol daripada seusianya di masa sekolah dasar. Berakhir dari kelas empat Steve diperbolehkan naik dua tingkat sebab nilainya yang setara dengan anak kelas dua SMA. Selain itu, kemampuan dibidang elektronik yang semakin tajam terasah dan terpicu. Ia bahkan banyak terpengaruh oleh hasrat orang dewasa di sekilingnya. Salah satu diantaranya adalah tetangga yang dianggapnya paling penting. Larry Lang, seorang panutan dan inspirator masa kecilnya. Tetangga idola yang seorang insinyur dan bekerja di perusahaan berkualitas tinggi, Hewlett-Packard, yang terkenal dengan kependekan dari HP.

Pada akhir 1960-an, saat di kelas sembilan, Steve masuk ke SMA Homestead dan mengenal beberapa murid seniornya yang tenggelam dalam budaya pemberontak. Dimana sistem hirarki dan cara berpikir kekuasaan tidak memungkinkan masyarakat sekitarnya terdorong untuk menciptakan pemikiran yang berbeda. Liar. Kreatif. Inovatif. Berani. Mulai dari itu, Ia pun dipertemukan dan tenggelam pula ke dalam dunia literatur dan budaya hippie. Tertarik selain elektronik pun menyukai matematika dan ilmu pengetahuan.

Budaya pemberontak di masa itu ternyata membentuk sikapnya. Steve Jobs bahkan tidak menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap disiplin dan kewenangan militer. Ia memiliki semangat yang besar dan cenderung dianggap aneh, dengan sikap pemberontak yang tinggi. Generasi enam puluhan di masanya bertumbuh-menjadi-memang menghasilkan generasi dengan cara berpikir anarkis, dimana orang-orang pandai sekali membayangkan dunia yang belum ada. Membayangkan ‘tajam ke depan’, begitu kalau istilah yang dipakai Ahmad Band dalam barisan syair lagunyaband yang dibentuk bertepatan dengan bergulirnya pergolakan Reformasi tahun 1998 oleh pentolan dan kevakuman band Dewa 19, Ahmad Dhani.

Ternyata seorang yang lebih cerdas ditemuinya kemudian. Seorang yang lebih ahli dan berpengalaman soal elektronik darinya. Stephan Wozianak. Pria lima tahun lebih tua darinya. Tetapi, dari sisi emosional dan cara bersosialisasi, itu justru dimiliki Steve.

Mereka adalah pasangan yang aneh yang akan meruntuhkan kekuasaan perusahaan komputer terbesar di masa itu. Semua orang tentu tahu, dunia mengenal mereka. Jika perjumpaan mereka tidak pernah terjadi, kita takkan menemukan sebuah unit mesin turing yang ramah di letakkan di bagian kamar tidurmu, atau takkan ada telepon cerdas dengan layar sentuh yang kita gunakan saat menerima surel dikamar mandi, berbagi informasi dan saling berkabar lewat komputer sakumu, kalaupun ada itu evolusi bukan revolusi. Jika itu terjadi, saya justru membayangkan produk hiraki dan kekuasaan itu tidak liar, tak inovatif, bahkan tidak kreatif. Hanya evolusi!

Ini revolusi. Kelahirannya benar-benar terjadi. Komputer pribadi yang diperuntukkan bagi siapapun sebagai alat untuk kebebasan itu lahir, alat cerdas itu ada dalam saku celanamu untuk siapa saja bisa mengakses apa saja, dimana saja, di dalam toilet sambil membuang hajat sekalipun.

Teknologi komputer yang berkuasa dikalangan elit masa itu lalu runtuh. Adalah sebuah jalan utama menuju masa depan yang lebih terbuka.

Suatu waktu ketika Apple I, II dan III diluncurkan, sesudah itu, sebab produk Apple III yang dianggap produk gagal, Seteve lantas berambisi membuat karya impiannya sendiri tanpa Wozianak, teman-berbagi-menciptanya ini. Jobs dan timnya lalu berkunjung ke sebuah perusahaan Xerox PARC, pusat penelitian digital di Palo Alto yang berfungsi sebagai tempat pengembangan berbagai ide digital. Kunjungan ini terkadang digambarkan sebagai salah satu serangan dan pencurian terbesar dalam sejarah industri.

“Peristiwa itu sama dengan berusaha menunjukkan kepada dirimu sendiri mengenai hal terbaik yang pernah dilakukan oleh manusia, dan kemudian berusaha untuk menerapkannya kedalam apa yang sedang kau lakukan,” Kata Steve Jobs lalu meluruskan maksudnya lagi, pelukis Picasso pernah berkata, ‘seniman hebat itu meniru, sedangkan seniman besar mencuri’. Bahkan Steve, mereka orang-orang Apple, tidak pernah merasa malu karena mencuri berbagai ide hebat.

“Xerox adalah ahli pembuat mesin fotokopi yang tidak tahu-menahu tentang apa yang bisa dilakukan oleh sebuah komputer. Mereka hanya kalah dalam kemenangan terbesar industri komputer. Sebenarnya, Xerox bisa saja memiliki seluruh industri komputer,” Jobs berpendapat demikian meski pendapatnya yang sesungguhnya kadang memiliki kebenaran lain.

Agaknya betul tentang Apple dan dirinya. Steve Jobs memang aneh, untuk sebuah revolusi teknologi dunia, nama karyanya pun tak ada sedikitpun berbau komputer. ※

*Sumber: buku biografi eksklusif tentang Steve Jobs by Walter Isaacson. #review

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s