Komputer Pribadi dan Obrolan Para ‘Gaptek’: Gagap di Teknis


pc
Ilustrasi: Ade Awaluddin Firman

“Aku melihat tuhan dalam instrumen dan mekanisme yang kerjanya dapat diandalkan….” (Potongan puisi dari Buckminster Fuller mengikuti filosofi “Access to Tods”  –akses menuju alat canggih, The Whole Eart Katalog— bahwa teknologi bisa menjadi teman kita.

Suatu waktu, empat tahun lalu, selama dan dari itu selalu saja ada obrolan yang diseret ke bincang-bincang kami, soal teknologi komputer. Kami, yang saya maksudkan ini adalah teman-teman bincang dan akrab saya jika malam sudah tiba. Malam yang paling panjang mengobrolkan ini ketika kota Makassar waktu itu sedang lampu dipadamkan, memang saat itu kondisi cuaca dan angin sedang kencang-kencangnya. Disuatu malam itu, Makassar sedang tanpa teknologi pencahayaan.

Menariknya, sebab obrolan berulang itu bukanlah bincang-bincang dari para peretas (hacker), perekayasa perangkat lunak, ataupun para teknisi perangkat keras komputer. Mereka adalah orang biasa yang menggunakan komputer (termasuk smartphone) beserta keterbatasan mengoperasikannya.

Entah, obrolan kami terpicu karena kebetulan saya yang satu-satunya dalam lingkaran itu yang berkuliah pada keilmuan itukah, atau justru karena keterbatasan kepahaman kami menggunakan alat ini yang akhirnya mengarah ke perbincangan itu, entahlah.

Sebuah simpulan yang agaknya justru dipahami dengan tidak begitu saja. Komputer hanyalah alat dari ilmu komputer, sebagaimana ilmu biologi bukan ilmu yang mempelajari mikroskop. Meminjam perkataan orang-orang seni, belajar seni musik bukan belajar alat-alat musiknya, tetapi mempelajari seni musik itu sendiri.

Jika dibatas kota bertuliskan ‘Selamat datang di Kota […]’, untuk persoalan diatas jika menuju sesuatu kondisi, kita akan menemui batas kota bertuliskan ‘Selamat datang di era Digital Native Immigrant’. Dunia manusia pribumi digital, dunia dengan kondisi beserta kecanggihan teknologi yang dimilikinya. Saya rasa, siapapun tahu, tentu teknologi hanyalah alat bantu, tak perlu cemas, kita agaknya hanya gagap di teknis. Bukan begitu teman?

***

Tentang komputer pribadi (PC), obrolan itu mengingatkan saya pada sebuah buku biografi karya Walter Isaacson, persis topik dalam bincang ringan saya ini, soal sejauh apa pengaruh teknologi komputer mempengaruhi manusia sampai mengalihkan laku dan cara pikir manusia, serupa itu (teknologi jangan sampai meng-gagap kita sampai pada laku dan cara berpikir), sebagaimana [sebuah kekhawatiran] yang pernah terjadi pada kelahiran komputer pribadi pertama kalinya, sebuah perlawanan dan revolusi. 

Akhirnya, perlawan itu mengubah komputer menjadi alat untuk kebebasan. Sebuah jalan utama menuju masa depan yang lebih terbuka. 

***

Revolusi, Kelahiran Komputer Pribadi (Personal Computer)

Di San Frasincisco dan Silicon Valley, selama akhir 1960-an telah terjadi penyatuan berbagai macam arus budaya. Saat yang sama, sebuah revolusi teknologi yang diawali dengan berkembangnya perusahaan kontraktor militer.

Selain itu muncul pula gerakan kelompok hippie, yang terbentuk dari para generasi muda di Bay Area, dan aktivis politik pemberontak, yang lahir dari komunitas Gerakan Bebas Berbicara di Berkeley.

Disamping kemunculan para kelompok pemberontak tersebut, muncul pula berbagai macam gerakan pemuasan batin yang bertujuan untuk mencari jalan menuju pencerahan diri (ajaran Zen dan Hindu), meditasi dan yoga, terapi menjerit kuno dan kehilanagan sensoris, Serta Lembaga Eslen (organisasi nirlaba yang memfokuskan diri pada pendidikan alternatif kemanusiaan) dan Organisasi est atau Erhard Seminar Training (mengubah kemampuan seseorang dalam menghadapi pengalaman hidupnya, agar memahami setiap proses yang ada dalam kehidupan itu sendiri).

Pada awalnya, para ahli teknologi dan pengikut hippie tidak begitu rukun. sebagian besar budaya pemberontak menganggap bahwa komputer tidak menyenangkan. The Myth of the Machine, sebuah buku sejarawan Lewis Mumford memperingatkan bahwa komputer telah merampas kebebasan kita dan menghancurkan “nilai-nilai memperkaya hidup”.

Kemudian, pada awal 1970’an terjadi perubahan cara berpikir. “Komputer pun berubah, dari alat kendali birokrasi yang ditolak, menjadi lambang ekspresi dan kebebasan pribadi yang diterima”, tulis John Markoff dalam studinya tentang pertemuan antara budaya pemberontak dan industri komputer, yang berjudul What the Dormouse Said. Keadaaan ini adalah semangat yang khas yang berasal dari zaman tersebut. Sebuah candu baru dengan teknologi pun menjadi sangat populer.

Pada akhirnya, budaya dan musik pemberontak, serta memakai narkotika di Bay Arena adalah kondisi yang membantu menciptakan industri komputer pribadi.

Sebuah gaya hidup baru pada abad ke-21 adalah para hippie. Mereka dapat melakukan hal-hal luar biasa karena cara berpikir mereka yang berbeda. Generasi yang menghasilkan cara berpikir anarkis, dimana orang-orang pandai sekali membayangkan dunia yang belum ada.

What You See is What You Get ~ Steve Jobs

*Sumber: buku biografi eksklusif tentang Steve Jobs by Walter Isaacson.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s