Tubuh Digital; Cara Kerja Otak yang Teralihkan


IMG_6423
Fakultas Ilmu Komputer Universitas Muslim Indonesia – Makassar. Tempat saya berkuliah.
Dua hari lalu secara kebetulan saya membuka televisi di kamar kontrakan seorang teman yang bersebelahan kamar dengan saya. Rencananya sekadar ingin menonton acara hiburan dan musik. Siang itu informasi soal pemberitaan Setya Novanto soal topik #papamintasaham dan informasi pilkada yang memang banyak muncul hampir setiap channel. Saya pun berhenti di salahsatu stasiun swasta dengan sadrah menyimak.


Disela beberapa berita lain ada sekilas pemberitaan tentang Indonesia Menuju Era Digital. Lepas sejenak dari berita hingar-bingar itu, setelah sekilas cuplikan berita soal teknologi informasi saya justru diingatkan dengan tugas akhir saya yang tak kunjung tunai. Tugas akhir saya soal perancangan sistem informasi seni direktori di kampus. Catatan ini sekadar untuk latihan memahami bahan olah skripsi, nyambung atau tidak, dalam atau tidak paragraf dengan huruf miring tidak bercetak tebal ini dengan paragraf yang akan tumpah setelahnya, toh saya sedang dalam pengalihan, eh, maksud saya peng-latihan. Hihi.
 
Halo, baru-baru ini ada pemberitaan Indonesia munuju era digital [?], terima kasih untuk Om Setya Novanto sudah memberikan ruang untuk berita-berita lain di televisinya teman saya, setidaknya engkau mengingatkan tugas akhir kuliah saya yang belum saja tunai ini. Hihi… 

***

Setiap teknologi adalah ekspresi kehendak manusia. Melalui peralatan, kita berusaha memperbesar kekuasaaan dan kendali kita atas keadaaan kita –atas alam, waktu dan ruang, atas orang lain. ~The Shallows

Membatasi diri untuk melihat pengaruh Internet terhadap media dan industrinya saja sudah demikian luas dan mendalam. Apalagi memperlebar sudut padang ke arah yang lebih luas, yaitu hingga ke kebiasaan hidup kita sehari-hari, pastilah sangkaan dan kesan di atas bertambah luas. Sebenarnya, itulah yang terjadi. Menyoalnya jika terlanjur lahir di masa tumbuhnya masyarakat Digital Native dan jika mengembara di pertemuan online. Internet’an, jangan sampai bersalah sangka. Jika tidak, betul, cara kerja otak kita sepenuhnya telah teralihkan.

Saya kira saya tahu apa yang telah terjadi sedini enam tahun lebih mengenal teknologi terkhusus komputer. Waktu yang mungkin agak lumayan adil untuk belajar berbanding dengan perkembangannya. Lama kuliah adalah selama itu saya mengenal komputer. Agak serius mulai menekuni komputer ketika tahun pertama kuliah. Selama itu saya beruntung ada teman sekelas saya meminjamkan personal komputer pentium empatnya kepada saya untuk mengejar ketertinggalan dan memahami beberapa cara kerja mesin algoritma ini.

Waktu SMA dulu memang telah diperkenalkan lewat matapelajaran Teknologi Informasi Komputer (TIK). Pun berhadapan nyata dengan komputer baru ketika suatu hari ujian akhir sekolah. Selama tiga tahun masa sekolah tidak lebih dari semacam hanya berimajinasi bagaimana bentuk perangkat-perangkatnya. Guru kami menyampaikan informasi teknologi sesuai apa yang ada di buku, menerangkannya dengan suara tanpa gambar dan praktik. Sesekali jika ada perangkat yang namanya tersebutkan agak aneh maka pak guru saya langsung mengambil kapur dan menggambarnya di papan tulis dan menerangkannya. Begitu seterusnya berjalan selama tiga tahun sekolah dalam mengenal informasi teknologi yang tidak lebih dari dua kali pertemuan setiap minggunya. Hingga ujian sekolah matapelajaran ini kemudian hanya disodorkan dengan soal-soal ujian cara menghidupkan dan mematikan komputer.

Satu-satunya unit komputer di ruangan tata usaha kantor sekolah  yang menjadi bahan ujian sekaligus mendadak mensimulasi pengetahuan yang diberikan  belakangan. Saat itu seorang teman saya sempat keliru menebak antara stavol dan CPU. Ujian yang rasa-rasanya menjadi menegangkan juga kiranya menakutkan ketika itu. Sebetulnya lucu juga kalau diingat-ingat kembali.

Sementara itu di belahan bumi lain, sebuah lembaga penelitian dan konsultasi bernama nGenera merilis penelitian tentang efek penggunaan Internet pada remaja. Lembaga itu mewawancarai sekitar enam ribu anggota generasi yang disebutnya sebagai “Generasi Internet” –anak yang tumbuh bersama web. “Perendaman digital,” tulis sang ketua peneliti,” telah sampai memengaruhi bagaimana mereka menyerap informasi. Jika generasi ini –jika dianggap generasi yang sama– mereka tidak lagi membaca halaman dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah, tetapi membaca teks-teks dijital dengan melompat-lompat tanpa memahami dengan mendalam isinya. Di tahun yang sama penemuan itu, di sekolah saya belajar di MAN Labuan Bajo-Nusa Tenggara Timur, saya dan seangkatan saya justru baru diupayakan berkenalan dengan perangkatnya tidak pada fungsi-fungsi lainnya yang semakin luarbiasa itu. Internet.

Pada 2009. Akhirnya saya turut berendam diri ke dunia dijital dan mendaftar dalam masyarakat immigrant digital native (manusia pribumi dijital). Di Makassar kemudian memang baru mendapatkan banyak kesempatan mengejar dan mempelajari keterlambatan itu. Dari pertama kali mengirimkan tugas dengan e-mail sampai berseluncur dari linksatu ke link lain atau sekadar berkenalan dengan teman-teman baru dengan akun Facebook dan Google Plus. Sementara pada tahun perkenalan komputer dan internet sedang di belahan tempat lain juga sebuah penelitian telah menemukan pertanda bagaimana web memengaruhi penulisan buku, ketika O’Reilly Media, sebuah penerbit buku-buku teknologi di Amerika, menerbitkan buku tentang Twitter yang disusun menggunakan perangkat lunak presentasi Microsoft PowerPoint. Sebuah temuan penelitian tentang media online mengubah presentasi, narasi, dan struktur buku. Setahun kemudian saya tercebur pula ke dalam dunia microblogging itu, mendaftar sebagai [at] adenafirman.

Dalam terbitan buku itu sendiri disajikan dengan model web dengan praktik membaca seseorang telah berubah seiring dengan mengadaptasi suatu teks online. Web “memberikan pelajaran tak terbatas mengenai buku perlu diubah ketika buku tersebut dipindahkan ke dunia online”. Pembaca teks media dijital ditemui kebanyakan cenderung membaca dengan melompat-lompat tanpa membaca secara mendalam. Menggambarkan penemuan ini, itu semacam membantu menggantikan ruang penyimpanan otak ketika menampung informasi yang begitu banyak, otak hanya bekerja memanggil informasi yang telah tertanam di dunia bermiliaran alamat link dan harddisk yang super besar itu. Otak dianggap bukan lagi menjadi tempat penampung atau menyimpan informasi yang cukup, ruang penyimpanan informasi yang lebih luarbiasa besarnya telah tertampung dalam World Wide Web. Pengalihan cara keja otak kiranya kemudian bekerja demikian. Otak tinggal mengingat katakuncinya dan memanggil informasi yang dibutuhkan. Tak perlu repot-repot menyedot seluruh informasi dan menyimpannya sebetul-sebetulnya kedalam ingatan. Termasuk berita papa minta saham tadi, informasinya tinggal dipanggil. Hehe.

Hasrat kita untuk memperoleh pengalihan itu yang bergerak cepat dan terus berubah tidak bermula sejak penemuan kode World Wide Web. Hal itu sudah ada dan berkembang selama beberapa dekade, saat tempo kehidupan sehari-hari semakin terasa cepat misalkan di tempat kerja atau di rumah saat media penyiaran radio dan TV menyajikan hingar-bingar acara, pesan, dan iklan.

Berkunjung ke beberapa abad silam lahirnya mesin cetak Gutenberg di Jerman yang membantu penyebaran informasi secara luas melalui buku-buku dan jenis cetakan kertas lainnya menjadi sebuah titik mula pengaruh besar terhadap perkembangan teknologi dunia dan bahkan meledaknya revolusi di bidang-bidang lainnya.  Dari teknologi analog itu kemudian berevolusi menjadi teknologi dijital dengan berdirinya perusahaan Apple dengan ambisinya yang brilian “What You See Is What You Get” adalah sebuah keinginan keras dan cemerlang yang kemudian memungkinkan banyak orang untuk menggunakan komputer secara nyata dan sangat dekat. Sebuah cikal bakal dari wujud awal dari Mainframe Time-Sharing (komputer besar yang menampung data besar di Pusat Komputasi Kiewit-Amerika) yang kita kenal personal computer (komputer pribadi).

Hingga berkembang dan disulap menjadi komputer yang akrab dan menakjubkan yang telah ada digenggaman tangan dan saku celana yang kita bawa kemana-kemana. Semakin lengkap sudah setelah enam tahun sebelumnya kode ajaib yang ditulis tim Berners-Lee membuat kita menjadi saling terhubung, bahkan segalanya (benda hidup maupun benda mati (elektronik) sekalipun) diupayakan saling terhubung dalam konsep Internet of Things yang tengah dalam pengembangan. Suatu yang dimaksud hubungan komputer dan manusia dalam perkembangannya yang di tulis John G. Kemeny, seorang ilmuwan tekemuka dan salahsatu penemu bahasa pemrograman BASIC (bahasa pemrograman pertama yang menggunakan kata-kata umum dan kalimat sehari-hari) menuliskan bagaiamana manusia dan komputer. Sekira sampai bagaiamana kemudian pengalihan cara kerja otak kita bekerja selama beberapa dekade. Berada dalam masyarakat digital native ataupun immigrant digital native dengan kerja otak menjadi kaum melek dijital (internet) yang teralihkan ini, jika bukan semakin cerdas maka bahkan sebaliknya. Kata peneliti komputer pengaruhnya sih begitu.

Peralihan berpikir yang kita korbankan demi Internet –dan hanya orang keras kepala yang menyangkal manfaat internet– adalah apa yang disebut seorang penulis muda Amerika sebagai “proses pikiran linear kita yang lama” (pikiran kita yang tenang, fokus, dan tak terganggu) sedang disingkirkan oleh jenius pikiran baru yang ingin dan butuh untuk menggunakan dan menyebarkan informasi pendek, tak terkait, dan sering tumpang tindih –lebih cepat lebih baik. Seorang profesor jurnalisme sekaligus editor majalah, John Battelle menjelaskan perasaaanya ketika mengembara saat online, Ia merasa sangat gembira dan merasa seperti semakin pintar. Perasaanya begitu memabukkan tanpa memedulikan dampak kognitif yang lebih dalam dari Internet.

Siapa saja tentu tahu cerita selanjutnya tentang pengalaman-pengalaman bersama teknologi komputer sedemikian apa itu sebab mungkin ini juga adalah cerita dari siapa saja yang barangkali serupa. Cerita-cerita siapa saja tentang teknologi canggih yang dimiliki yang hadir di tempat kerja, atau cerita dari perangkat smart dalam saku celana atau perangkat desktop dalam kamar pribadi Anda. Spesifikasi personal komputer yang tinggi untuk membantu kita bekerja dengan perangkat lunak pengolah foto atau video, atau mungkin membangun software, misalkan bikin aplikasi mendeteksi hati nurani om-om di MKD. Hehe. Smartphone yang semakin kesini semakin cerdas pula perangkatnya,  mengakses informasi dengan begitu enteng dan cepat, akun-akun media sosial untuk berinteraksi, sekadar menyapa teman lama atau memberikan tombol suka, komentar, dan berbagi apapun, membuka video streaming untuk menonton ulang konser yang tak tersempatkan atau karena tak cukup uang untuk membeli tiketnya, blogging atau microblogging dimanfaatkan untuk berbagi dengan alih-alih macam rupa informasi. Siapa yang bisa menolak ini? Jelas bukan saya. Entah jika pertanyaan itu dialihkan untuk Om Setya Novanto, tentu saya pikir Ia bakal tidak juga menolak kenikmatan kecanggihan ini. Hehe.

Sebagai berikut selamat untuk Indonesia yang belum lama ini telah diridhoi dunia melepas era analog menjadi negara ‘Menuju Era Digital’. Peruntuk yang belajar-pangkal-baik di bidang ilmu komputer, saya turut merayakan dengan senang hati. Saya tebeng kebahagiaan untuk kabar baik ini. Semoga kita menjadi pengguna teknologi informasi yang sebaik-baiknya. Amin. Allahu Akbar!!! *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s