Kisah Guru Mading; Mengapa Saya Manggarai


Percakapan tentang kisah ayahnya banyak diceritakan ketika berkunjung ke Makassar. Rujukan berobat sebab cedera kepala ringan setelah mengalami kecelakaan tabrakan motor beberapa waktu lalu. Memang dibanyak waktu bersamanya saya hampir tidak pernah bertanya lebih jauh tentang cerita kakek. Sepengetahuan saya, Ayahnya pergi berdagang dan tak kembali meninggalkan istri dan anak-anaknya. Hanya itu.

KONDISINYA belum begitu pulih. Kecelakaan itu membuat penglihatannya memburuk. Percakapan itu justru membuat saya cemas sebab berkisah berarti bekerja dengan ingatan. Ketika bicara Ia berkedut keras seperti kesulitan mengingat sesuatu.

Masih ada rokokmu, nak? Berikan saya sebatang, sejak tadi saya ingin merokok”. Sementara saya yang khawatir, begitu ayah saya meyakinkan kalau ingatannya masih kuat dan baik-baik saja. Syukurlah dugaan saya keliru. Ia mungkin hanya butuh istirahat lebih banyak agar kondisinya kembali pulih.

Ternyata banyak kisah yang tidak saya ketahui yang tumpah di obrolan kita. Dulu. Kakek Mading kemudian menjadi seorang pedagang setelah berhenti menjadi guru ketika meninggalkan Sulawesi. Kakek mengajar sejak berusia 18 tahun setelah menyelesaikan sekolah dasar tahun 50’an. Setelah tamat kemudian mengajar di SD Inpres (sekolah itu mungkin sudah berubah status) di kecamatan Tonra kabupaten Bone selama sepuluh tahun.

Saat itu kalau tamat sekolah dasar sudah bisa mengajar, begitupun saya dulu, kelas lima saya sudah diminta untuk mengajar beberapa kelas dan tingkat”. Begitu Ayah saya menambahkan dan mengenang masa sekolahnya di SDN 2 Labuan Bajo.

Katanya kakek pernah ditawarkan menjadi tenaga pengajar di pelosok-pelosok desa oleh kelompok gerakan pemuda Kahar Muzakar. Guru Mading memilih menolak tawaran itu lalu memutuskan untuk berhijrah ke tempat yang dirasannya agak aman bersama keluarga kecilnya. Menyitir Ayah, dimasa pemberontakan Kahar Muzakar orang bugis banyak menyebar ke Pulau Kalimantan, Nusa Tenggara dan sebagian ke Jawa.

Sebab situasi yang dirasa tidak stabil itu, keputusan Kakek untuk tinggal di Pulau Bunga semakin bulat. Selain alasan perantauan dari Sulawesi yang memang sudah banyak tersebar dan menjadi warga setempat di pulau-pulau kecil dan pesisir Manggarai Barat (Flores, NTT).

Berkampung di Kota Labuan Bajo setelah menikah dan memiliki tiga orang anak dari enam bersaudara yang kemudian lahir di Tanah Manggarai. Ayah saya lahir tahun 1965 dan saudara terakhir lahir tiga tahun setelahnya. Kakaknya (anak keempat) terlahir dengan kehidupan yang singkat, hanya tiga bulan. Disemayamkan di pulau Sebabi. Tempat pertama ketika Kakek memboyong keluarga kecilnya ke Flores. Tinggal beberapa waktu disana sebab ajakan Iparnya yang ternyata sudah lebih dulu menetap.

Pulau Sebabi berada di jalur pantai utara tidak begitu jauh dari kota Labuan Bajo. Menggunakan perahu kayu dengan tenaga mesin sekira tiga jam sudah sampai. Entah berapa lama bermukim disana kemudian pindah ke desa Gorontalo – Labuan Bajo tahun 1969. Hingga sekarang keluarga besarnya telah berkampung di Labuan Bajo. Lalu sebagian saudara dan cucunya meratau ke Jawa dan Kalimantan.

BERDAGANG untuk menghidupi keluarga. Buah Pala, bawang, dan cengkeh yang dikirim dari Sulawesi serta ikan asin dari laut Manggarai yang diperoleh dari para nelayan setempat dibawa ke Lombok (NTB) untuk kembali dijual dan kadang berdagang juga ke Surabaya. Perjalanan menuju pulau Lombok ditempuh selama sekitar sepuluh hari dengan perahu kayu tanpa mesin (perahu layar; masih mengandalkan tenaga angin).

Kisah menjadi pedagang pun berhenti di bulan kedua 1977. Kakek yang tangguh ini hilang tenggelam di telan lautan. Laut menjadi tempat Beliau disemayamkan Sang Khalik. Jasadnya entah dimana, kami meyakini kehadirannya lewat nisan yang ditancap di bumi Beliau dilahirkan. Kecamatan Mare, Bone – Sulawesi Selatan.

Ayah saya berkisah, peristiwa haru itu terjadi ketika Ia masih di tahun kelima sekolah dasar. Di tengah perjalanan perahu kayu yang membawa barang dagangannya mengalami kebocoran besar dan tenggelam. Selama seminggu Guru Mading dan tujuh orang anggotanya terombang-ambing di lautan. Selama itu hanya dua orang ditemukan dan selamat. Tertolong ketika perahu pedagang lain melintas. Dua hari kemudian berita duka itu pun terkabarkan.

Dalam rentang waktu dan perjalanan yang sama sebelum kejadian itu, kakek telah dua kali pulang-pergi. Saat berpamitan untuk perjalanan terakhir, Guru Mading kemudian pamit kepada istri dan anak-anaknya dengan kebiasaan yang agak berbeda. Sepertinya beliau punya firasat kuat soal peristiwa yang bakal menimpanya itu atau entah. Begitu ayah saya mengenang.

Saya mengemu dibagian cerita yang ini. Saya lantas melihat wajahnya. Keingintahuan saya semakin besar seperti apa sosok nyata ayahnya itu –wajah Guru Mading juga sangat mirip menurut saudara-saudaranya.

Sekiraku, mungkin keahlian berdagang dan melaut itulah yang terwarisi kakek kepada ayah saya. Setelah menyelesaikan kuliah ilmu perindustrian Politeknik Ujung Pandang (sekarang nama kampus itu katanya sudah berubah), Ia kemudian kembali ke Manggarai bekerja diparuh waktu sebagai nelayan. Sesekali berdagang. Kemudian pengetahuan berdagang dan ilmu semasa kuliah diabdikan di salahsatu koperasi nelayan Labuan Bajo yang kini tempatnya bekerja.

Sempat mengikuti jejak kakek mengajar di Madrasah Aliyah (sekarang MAN) Labuan Bajo. Hanya sebentar menjadi tenaga pengajar sebab nenek Jiwa (ibu dari ayah) jatuh sakit dan membutuhkan biaya yang tidak cukup hanya dari gaji seorang guru saat itu.

Enam bulan sebelum kelahiran saya, nenek Jiwa menemukan panggilan kepangkuan-Nya dan dipersemayamkan disamping kuburan Kakek. Selepas itu Ayah saya terus memilih melaut hingga tahun 2006.

Cerita sepenggal ini, belakangan saya agak mulai memahami mengapa ayah saya terampil memancing ikan, cekatan menangkap kepiting, dan berdagang. Sebagian keterampilan itu dia dapatkan dari ayahnya, seorang pedagang dan perantau dari tanah Sulawesi. ※

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s