Kepastian yakni Memungkinkan Kemungkinan yang Tak Mungkin


images
Ava sebagai aktor utama dalam film Ex Machina. (Ilustrasi: 3ammagazine.com)

PM : “Mengapa kau membuat Ava?”

CEO : “Pertanyaan itu aneh. Apa kau tak mau, jika kau bisa?”

PM : “Mungkin. Aku tak tahu”. “Aku bertanya kenapa kau melakukannya?”

CEO : “Kedatangan Artificial Intelligence yang kuat tak bisa dihindari selama berdasawarsa. Variabelnya ‘Kapan’, bukan lagi ‘Jika’. Aku menganggap Ava sebagai keputusan, hanya evolusi”

Sepenggal percakapan programmer muda (PM) dan pemilik perusahaan (CEO) dalam film ‘Ex Machina’. Ava adalah nama mesin kecerdasan buatan yang sedang dalam pengujian.

Suatu waktu saya kemudian diingatkan dengan matakuliah Artificial Intelligence (AI) setelah menonton film ‘Ex Machina’. Film drama barat yang bercerita tentang seseorang yang brilian yang membangun kecerdasan buatan.

Diceritakan seorang programmer muda yang terpilih untuk Test Turing dan menjadi komponen manusia dalam pengujian kemampuan proyek perusahan pribadinya. Proyek ini sangat rahasia. Proyek kecerdasan buatan yang  membangun daya swakesadaran, imajinasi, manipulasi, seksualitas, empati, serta keputusan rumit lainnya yang dimiliki manusia yang di tanam ke tubuh mesin.

Sebagai upaya mempelajari kecerdasan, keinginan dan pilihan manusia yang dibangun ke dalam bluebox (istilah perangkat lunak, film ini menyebutnya perangkat basah, ini mungkin lebih dari sekadar perangkat lunak lagi) dengan merekam dan memetakkan prilaku serta kecenderungan manusia menggunakan internet searching yang terhimpun dan dihimpunnya. Tanggap saya ada ambisi yang begitu besar dan cara kerja AI yang diperlihatkan film ini.

Saya kembali teringat sukar penjelasan dosen saya yang sebetulnya masih agak sulit untuk saya pahami begitu saja. Sekadarnya, saya menimpali secuil pengetahuan yang diterangkan dosen saya dengan beberapa pengetahuan yang dihadirkan film ini. Adalah peran Artificial Intelligence (AI)  yang mengupayakan agar komputer berlaku cerdas sebagaimana manusia melakukannya. Teknologi yang mensimulasi kecerdasan manusia untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang sulit.

Sepengetahuan dangkal saya, AI  atau kecerdasan buatan dalam membangun teknologi cerdas memang berdasar dari prinsip, konsep algoritma atau logika pemecahan masalah yang memang menjadi dasar kerjanya (prinsip: matematika, linguistik, dan elektronika).

Justru, film ini menunjukkan bukan hanya soal pemecahan masalah dengan pendekatan kerja logika saja bahkan ada upaya membangun kecerdasan kenaluriahan manusia dalam sebuah perangkat lunak. Itu semacam penciptaan kemanusiaan manusia yang ditanam ke dalam perangkat keras. Kemanusian manusia dengan tubuh mesin [?] bukan hanya meniru manusia, bahkan lebih dari itu. Memungkinkankah?

Pada 1950’an pendekatan ilmu komputer dalam kompleksitas kerjanya –bekerja dengan lintas keilmuan– melahirkan irisan-irisan disiplin ilmu Kecerdasan Buatan hingga melahirkan beberapa klasifikasi dengan lingkup utama; [1] Sistem Pakar (dengan pendekatan dan menyimpan informasi atau pengetahuan dan keahlian para pakar), [2] Pengolahan Bahasa Alami (Natural Language Processing: melalui pendekatan komunikasi dengan bahasa sehari-hari), [3] Pengenalan Ucapan (Speech Recognition: pendekatan melalui komunikasi suara), [4] Robotika & Sistem Sensor, [5] Computer Vision (melalui pendekatan komunikasi dengan menginterpretasikan gambar atau objek-objek secara visual), [6] Intellegent Computer-aided Instruction (sebagai tutor untuk melatih  dan mengajar), [7] dan Game Play. Menurut para ahli pengklasifikasian studi ini agar mampu mengakomodasi adanya ketidakpastian dan ketidaktepatan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan jika dibawa ke dikotomi keilmuan yang menggunakannya.

Pun tidak hanya sampai membangunnya semakin cerdas dengan pendekatan-pendekatan itu. Upaya lain kemudian dipikirkan para peneliti komputer. Perjalanan perkembangan teknologi –ilmu termuda dan paling cepat berkembang–dengan didasari klasifikasi itu kemudian muncullah Logika Fuzzy sebagai upaya beradaptasi terhadap problem (alami ataupun buatan) yang dapat diformulasikan dalam terminologi genetika.

Hemat saya, itu semacam membangun mesin cerdas manusia tiruan yang mampu mempelajari dan beradaptasi dengan dan dari pengalaman-pengalaman secara mandiri. Pengalaman-pengalaman itu disimpan dan dievaluasi secara otomat terakurasi. Keputusan cerdas mesin seperti itu yang saya tanggap ada dalam film keren ini. Sebuah ambisi membangun teknologi yang melampaui kemampuan kecerdasan manusia (kecerdasan yang kompleks, otomatik, dan akurat). Semakin dievaluasi semakin cerdaslah dia dengan otomatnya. Memungkinkankah?

Memungkinkan kemungkinan lain darinya. Semisal yang sedang meriah dan berkembang yang banyak tampak dan telah dikomersilkan adalah konsep Internet of Things (IoT, 1999). Sebuah konsep jejaring, apapun benda mati dan benda hidup saling terkoneksi dan terintegrasi. Teknologi pembuat kopi misalnya, yang otomatis memanaskan air ketika telah mendeteksi dan memperkirakan bangun kita dari tidur. Mesin cerdas ini akan menyiapkan kopi hangat siap saji semenit sebelum bangun tidur. Atau jendela di rumah akan terbuka otomatis setelah membaca dan memperkirakan titik sadar kita ketika tidur. Jendela cerdas akan terbuka otomatis lima menit sebelum kita terbangun. Entah kapan waktu kita terbangun, mesin akan tetap membaca kemudian melakukan perintah otomat. Sampai hari ini konsep IoT terus dimungkinkan untuk berkembang.

Artificial Intelligence memang telah banyak berkonstribusi sejak kemunculannya. Yang mencengangkan dalam beberapa tahun ini, rangkaian terobosan dalam perkembangannya. Pada 2012, sekelompok peneliti robotik Jepang berhasil mendemonstrasikan bahwa seseorang yang berbaring dalam mesin fMRI (yang terus memindai otak untuk mengukur perubahan  dalam aliran darah) dapat mengendalikan robot berjarak ratusan kilometer dari sana hanya membayangkan bagian bagian-bagian tubuhnya digerakkan. Subjek dapat melihat dari sudut pandang robot, berkat kamera di kepalanya, dan ketika dia berpikir tentang menggerakkan lengan atau kaki, robot itu menirukannya dengan persis, nyaris seketika itu (bacaan: The New Digital Age karya Eric Schmidt & Jared Cohen, 2014).

Kita mungkin bisa membayangkan bagaimana keinginan keras itu bekerja dalam membangun teknologi AI yang telah banyak bermunculan. Begitu juga saya membayangkan jika kita kemudian akan bertanya tentang variabel ‘kapan’ untuk membangun kemanusian manusia di tubuh mesin dengan studi ini. Memungkinkankah?

Memungkinkan yang tidak mungkin. Setakar dengan menonton film itu, kecerdasan buatan memungkinkan untuk melampuai dirinya sendiri. AI tidak lagi berjika, Ia menjadi sebuah keniscayaan. Ia sedang merangkak, hanya evolusi.

Ambisi yang besar. Artificial Intelligence tak hanya lagi membangun keceradasan yang akurat dengan melulu bekerja dengan klasifikasi yang terakomodir. Ia bahkan berambisi lebih dari itu. Kemungkinan yang akan melebihi dari kekompleksannya, sepertinya. Semungkin itukah?

Memungkinkan. Sedari mula studi ini memang bekerja dengan banyak kemungkinan dan bahkan dengan ketidakmungkinan. Sebagaimana revolusi digital lahir dan menembus dimensi ruang dan waktu. Dunia yang terbatas lalu termungkinkan berkat konsep hyperreality (filosofi Baudrillard) kedalam dunia hypertext dan atau hyperlink. Manusia kemudian hidup di dua dunia, satunya nyata, satunya lagi dengan dimensi ruang dan waktunya yang lain, yang tanpa batas itu. Yang saya maksudkan adalah dunia script atau yang kita kenal internet.

Evolusi. AI telah berada dijalan ini. Perjalanan memastikan untuk merebut kemungkinan terjauh. Memungkinkan yang dianggap tidak mungkin. Kalau teman saya bilang itu semacam sebuah peluang yang sulit pada situasi dengan kesempatan yang setidakmungkin apapun itu.Serupa kata teman saya ini, di dalam itu ada ambisi yang luarbiasa dahsyatnya.

Duh, kapan itu termungkinkan, mau dong dibikinkan mesin untuk menampakkan isi hati kamu yang paling memungkinkan! Eh! ※

*Pernah diposting diakun blogspot saya di adenemperia.blogspot.com, 24 November 2015.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s