Dulu, Labuan Bajo Ada Banjir Ikan


kampung-bajo-labuan-bajo
Kampung Bajo (Kampung Air-Tengah-Cempa-Ujung). Dokumentasi di rekam pada Juni 2014. Foto: Ade Awaluddin Firman.

Ini catatan di waktu senggang saya ketika dua minggu berada di Labuan Bajo. Sebelumnya catatan ini telah saya posting di akun facebook saya. Dua pekan di awal Januari itu saya sedang mengambil jatah liburan akhir tahun. Berlibur yang hanya sebentar itu.

Saya paling suka ikan kalau berkuah. Dibikin biasa saja, dicampur bawang merah, sedikit kunyit bubuk dan sari air asam. Biar sedap tambahkan sedikit bumbu penyedap rasa dan tiga buah cabe kecil, dengan begitu saya sudah cukup bahagia. Hampir jenis ikan apa saja, yang segar, disulap seperti begitu, kepala ikan saya incar lebih dulu.

Suatu pagi Ibu saya memasak ikan merah dan dua ekor ikan ketamba kecil. Beli dua kilogram untuk dua kali penyajian pagi dan malam. Ikannya beli di tempat penjualan ikan Kampung Ujung. Lokasinya yang bersentuhan langsung dengan laut di bibir utara Labuan Bajo. Pasar ikan yang agaknya paling sibuk di ibu kota kabupaten di ujung barat Pulau Flores.

Jenis ikan merah perkilo harganya berkisar tiga puluh sampai dengan empat puluh ribu rupiah. Sewaktu-waktu harganya bisa saja naik tergantung cuaca di laut. Ikan dengan dagingnya yang tebal dan kenyal serupa itu diperoleh dari hasil memancing. Jenis ikan ketamba atau jenis ikan kerapu misalnya.

P_20160112_112840_HDR copy
Suatu siang, Januari 2016. Tempat Pelelangan Ikan Labuan Bajo. Pasokan ikan merah yang dari pemancing. Foto: Ade Awaluddin Firman.

Nelayan biasanya tidak mencari ikan kalau cuaca sedang tidak bersahabat. Itu sudah menjadi soal yang pasti jika harga ikan menjadi dinamis, bisa naik sekali. Begitu sebaliknya, harganya bisa saja turun.

Bisa ditebak, dulu (sekira sampai tahun 2009 kebawah), jika perahu dan bagan para nelayan Labuan Bajo –nelayan yang agaknya kebanyakan dari Kampung Bajo– banyak berlabuh di tepi pulau Bajo. Pulau terdekat yang berhadapan langsung dengan Kampung Bajo yang paling tepat untuk menyembunyikan perahu-perahu dan bagan dari terpaan ombak di musim barat yang tidak bersahabat itu. Disituasi seperti ini, pasokan ikan tentu tak banyak. Dengan begini harapan besar pasokan ikan dinantikan dari hasil mancing dan pukat kecil.

Begitupun pasokan ikan sekira tahun 2000’an sungguh mudah kita jumpai di sepanjang bibir pantai Kampung Baru, Air dan Tengah( (kampung Bajo). Ikan yang dijemur diatas bangunan bambu serupa balebale raksasa sepanjang tiga kampung Bajo dan sekira melentang hampir dua puluh meter dari bibir pantai ini pernah padat terisi ketika musim banjir ikan tiba. Saya ingat betul, suatu musim dimana ikan lajang dan seukuran itu melimpah ruah, pernah banyak dibuang percuma sebab paparah (sebutan warga setempat untuk jemuran bambu yang dibangun nelayan setempat serupa balebale raksasa) tidak cukup menampung pasokan ikan.

url
Instalasi bambu untuk penjemuran ikan (paparah). Jemuran ikan ini berdiri sebelum pembangunan jalan baru reklamasi pesisir Labuan Bajo. Foto: Indonesia-forum.org

Soal lain. Kata Ayah saya, pernah, selama mengelola Tempat Pelelangan Ikan (TPI), sekadar membandingkan dengan dulu (sekitar tahun 2008 kebawah) ikan cukup melimpah, jadi harga ikan sangat murah. Nelayan dulu banyak, jadi pemasokan ikan tentu banyak sekali. Istilahnya ‘banjir ikan’, harganya murah sekali kalau sedang dibanjiri.

Satu baskom (dengan volume tampung sekitar 15 kg atau 200’an ekor) ikan layang pernah dijual dengan harga dua puluh ribu rupiah saja. Hampir semua hasil tangkapannya terjual murah meriah. Pencari ikan yang baik hatinya kadang kasih ikan dengan harga seikhlasnya. Malah kadang diberikan gratis. Cukup untuk hidangan dimeja makan keluarga selama tiga hari. Hari-hari berikut jika banjir datang lagi, bisa-bisa nemu kebaikan serupa lagi. Pokoknya baik sekali. Semoga Tuhan bisa kasih lagi banjir yang baik macam begitu.

Pikiran dangkal saya, barangkali harga ikan turut naik sebab para penangkap ikan yang jumlahnya sudah tak banyak. Pasokan ikan tidak melimpah sekira tujuh tahun lalu. Menurut beberapa informasi yang saya temu-alami dari teman-nelayan dari dan Ayah saya, peluang lain tumbuh-baik dari faktor pariwisata juga yang punya banyak pengaruh, misalkan pengalihan profesi dari nelayan (penangkap dan penjemput ikan) beralih menjadi pemandu wisata atau sejenis pekerjaan itu. Agaknya begitu.

Ayah saya juga sudah tidak berprofesi nelayan lagi. Semenjak 2006 sudah melepas bagan, perahu kecil, dan aktivitas memancingnya karena mengaku ototnya yang sudah lentur. Karena sudah tua, sudah tidak kencang lagi seperti waktu waktu muda dulu katanya. Beliau kemudian bergabung dan bekerja di Koperasi Nelayan Yasa Mina Labuan Bajo. Akhirnya bergabung setelah tiga kali membentuk koperasi dan selalu saja gagal.

Sejak itu sampai 2011, saya mulai agak terbiasa dengan bau dan riuh aktivitas nelayan di tempat jual-beli ikan paling sibuk di Labuan Bajo ini. Waktu senggang di luar jam sekolah, diisi dengan rutinitas membantu pekerjaan sampingan orangtua. Dari menjual air bersih per jeriken untuk orang-orang pulau, mengelola tolilet dan kamar mandi umum, sampai jual es batu untuk pengawetan ikan. Selebihnya di ujung waktu senja diisi dengan membersihkan toilet tadi dan mengikat satu sisi plastik es yang akan diisi air di malam harinya untuk dibekukan dan dijual pada pagi dan siang harinya kepada nelayan.

P_20160114_072817_HDR copy
Suatu pagi di tempat pelelangan ikan Labuan Bajo. Foto: Ade Awaluddin Firman.

Sekarang tidak lagi. Berkunjung kesitu hanya sekadar minum kopi buatan Ibu saya. Setidaknya saya punya alasan yang pas buat nongkrong di tempat kerja ayah saya. Mungkin saja ada ada pekerjaan kecil untuk saya.

Kini Ibu saya diminta untuk menjalankan program koperasi di tempat ayah saya bekerja. Kedai Pesisir namanya. Selain menjual jenis minuman hangat seperti kopi, susu, dan teh kedai ini juga menyediakan kebutuhan pertalatan-peralatan bagi nelayan dan anggotanya. Kedai ini berada di lokasi pelelangan ikan itu persis di tepi perahu-perahu nelayan bersandar.

Jika berkunjung kesitu, datanglah bersama teman atau pacar. Dua gelas kopi cukup untuk menjaga durasimu duduk disana sembari ngobrol dengan temanmu dan sama-sama merasakan detak rutinitas tempat ini dengan bahagia. Harga kopi Ibu Ati tidak mengganggu kesehatan kamu kok. Harganya itu dari hati, sama seperti warung kopi lainnya sekitaran tempat pelelangan ini.

Siapa saja tentu boleh berkunjung entah apapun alasannya. Jika kamu datang sendiri dan punya kenangan yang serupa, datanglah. Demi Tuhan, ikan segar dan kopi Flores itu ‘enaaak‘.※

Yuk, nonton dokumentasi rutinitas di Tempat Pelelangan Ikan Labuan Bajo, Disini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s