Belajar Berkeluarga dari Keluarga Kecil Unusually


Poster Nonton bareng Keluarga Kecil Unusually.

Pekan pertama Januari 2016. Sebuah obrolan tumpah di tangga rumahnya Zul di tepi Gang Kiwi Kampung Air. Suatu malam yang sesungguhnya sekadar bertemu karena lama sudah tidak ketemu. Semakin larut malam semakin hangat akhirnya perbincangan. Siswanto Gunawan (Anto) dan Hasan Basri (Iksan) dan Amir Hamsa (Hamsa) juga yang paling hangat-menghangatkan malam.

Zul dengan nama lengkap Zul Kifli Madide adalah teman yang paling kami sayangi. Ia selalu menjamu kami dengan ikhlas setiap kali berkunjung ke rumahnya. Aktivitas sehari-harinya mengajar di SMKN 1 Komodo Labuan Bajo. Disela obrolan selalu ada pengalaman mengajar yang Ia share. Sebab darinyalah pula sesungguhnya ungkapan ‘terlanjur berteman’ lahir bermakna diperjumpaan itu. Ungkapan yang menjadi obat yang paling ampuh untuk memicu obrolan tumbuhnya harapan-harapan kecil dan juga sepertinya canggih mengawetkan hubungan silaturahmi.

Anto sehari-hari selain bekerja dibagian tata usaha mengurusi administrasi sekolah, juga membina kelompok belajar ekstrakurikuler Marching band MAN Labuan Bajo. Ia teman yang saya kenal kreatif bikin komposisi musik dan sangat menyayangi dan hormat kepada Ibunya.

Iksan dijemput Anto malam itu. Sama seperti Zul, Iksan juga adalah pengajar di SDN 2 Labuan Bajo. Tempat saya, Anto, Zul, dengannya dulu bersekolah. Iksan dalam waktu dekat berencana untuk membangun hubungan yang lebih serius dengan kekasihnya. Ia tengah berencana menikah.

Tak lama Eddy Sudrajat datang menghampiri kita. Meski hanya sebentar pada malam yang mulai agak larut itu. Eddy membawa harapan yang sama. Upaya-upaya positif semoga bisa dipicu bersama.

Kata orang, anak muda kadang begitu. Semangatnya membara, berapi-api dan berkoar-koar. Jalan yang ditempuh semacam itu katanya untuk menemukan jatidiri. Sepertinya orang-orang telah banyak tahu soal ini. Agaknya hal demikian untuk mendekatkan diri dengan itu perlu rasanya dialami. Mungkin menjadi penting jika diujicoba daya juangnya. Mengalami dan belajar. Jalan terus dan terus. Kata orang yang punya pengalaman banyak sih begitu. Soal ini mungkin jika bisa disederhanakan, kita mau bertemu dan kita mau belajar menjadi orang yang bukan siapa-siapa. Bertemu, mengalami dan belajar terus. Mari disemogakan.

Suasana teras kamar kerja Unusually di tepi Gg. Kiwi saat menungguu pemutaran film di acara kecil ‘Ada Cinta Monyet di Gang Kiwi’, Kampung Air.

Setelah bertemu dan berbincang berulang-ulang, agaknya kita meyakini kekuatan tatapmuka sepertinya mampu mencetus dan memicu tumbuhnya upaya-upaya positif bersama kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik lainnya.Misalkan memicu keterlibatan teman-teman muda. Hal kecil seperti sama-sama dalam menyediakan urusan teknis. Sadam Husen (Adam) tanpa diminta, Ia pun menawarkan diri untuk menyediakan kabel power dan kabel VGA komputer pribadinya untuk dipakai pada proyektor yang dipinjam Eddy dari temannya. Alfi yang aktif di Komunitasbola Bajak Laut juga turut bersaran tempat jika acara kecil ini akan digelar lagi. Agaknya hal-hal kecil apapun atauserupa itu perlu dipicu, sebagai cetusan dalam membangun inisiatif dalam bekerja bersama.

Suatu waktu bincang sebentar saya bersama Eddy soal bikin acara kreatif anak muda sesungguhnya masih baru dan belum akrab di Kampung Air. Perlu kiranya dibiasakan dan berulang-ulang, tentu dengan membaca potensi dan kecenderungan yang ada atau memperkenalkan hal-hal yang barangkali dibutuhkan dan mempelajari cara kerja yang cocok dalam pelibatannya. Sedikit banyak obrolan kita begitu.

Menyitir Fuad, jika di kampung anak-anak cenderung ramai hanya pas ada acara pernikahan, adakah kemungkinan lain untuk membikin kemeriahan perjumpaan lain melalui hal lainnya yang bisa diupayakan bersama [?] harapan kecil di acara Cinta Monyet di Gang Kiwi misalnya.

 Suasana di dalam kamar kerja Unusually saat nonton bareng berlangsung.

Gelaran kecil yang terinisiasi sebagai ujicoba keluarga kecil Unusually berkedok ingin kumpul-kumpul sambil ngobrol apasaja dan berbincang seluas-luasnya dengan santai. Mengalir.

Sabtu malam (16/1/2016) dengan acara kecil-kecilan seperti itu ternyata diapresiasi cukup baik. Bisa dilihat dari respon dan kedatangan beberapa anak-anak remaja dan satu dua pemuda. Ruang kerja Unusually yang sempit berukuran sekira 2×4 meter menjadi sesak untuk menampung hampir dua puluh orang yang datang. Sebagian duduk di teras menyimak film yang diputar lewat pintu ruang kerjanya.

Sebetulnya acara nonton film bersama dengan tema cinta monyet ini digelar di jalan baru-wilayah RT 18 di pinggir pantai Kampung Air. Hanya saja negoisasi dengan pemerintah kampung setempat baru saja diminta sekira dua jam sebelum acara dimulai. Agaknya betul, meski kita merasa warga kampung ini adalah keluarga dan kita menganggap sudah akrab dan saling mengenal, justru kita perlu tawar-menawar dan membangun emosional terutama bersama warga kampung setempat. Tempat alternatif kemudian bergeser di ruang kerja Unusually.

Perbincangan bersama keluarga kecil Unusually yang diyakini adalah penting tentang bertatapmuka dan membangun silaturahmi. Barangkali makin kian, kemungkinan lain ataupun harapan kecil lainnya semoga bisa terupayakan bersama melalui itu.

Ngobrol santai di Markas Keluarga Kecil Unusually.

Salah satu remaja yang datang malam itu mengaku merasa kecewa sebab acara yang digelar tak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan dan yang tercantum dalam poster. Seperti items main musik, baca puisi, dan lawakan. Keluarga kecil Unusually mengakui perlu memang persiapan yang mulai serius agar yang akan datang pada gelaran kecilan selanjutnya tidak mengecewakan lagi. Melalui pertemuan ini harapannya bisa diupayakan kembali bersama.

Saya mengajak adik saya yang perempuan yang kini bersekolah di MAN Labuan Bajo dan masih duduk di bangkukelas satu. Dia datang bersama adik laki-laki saya yang bungsu. Sebelumnya informasi acara kecil ini Ia dapat dari foto profil kontak BBM teman-temannya. Saya melihat respon dan antusiasnya baik, sebab setelah pulang sekolah Ia mesti membereskan pekerja di rumah dulu. Menyapu, mencuci piring serta pakaian sebelum menghadiri acara dimalam harinya. Menurutnya ini harus dibereskan lebih dulu, jika pulang agak larut malam orangtua dirumah bisa langsung memaklumi.

Ditengah-tengah kita, Mas Sigit membawakan lagu daerah Manggarai.

Setelah film diputar dan obrolan santai dibuka malah sebuah lagu dinyanyikan Mas Sigit. Sebuah lagu daerah Manggarai yang baru Ia pelajari beriring gitar akulele yang dimainkannya. Akulele yang selalu dibawanya kemana-mana. Ia seorang pelancong dari Jakarta. Hampir tiap malam mengamen di Kampung Ujung untuk menutupi biaya perjalanan kelilingnya. Setelah Labuan Bajo, Ende dan Makassar menjadi tempat kunjungan berikutnya. Ternyata Mas Sigit ini berencana menerbitkan sebuah buku dari setiap perjalananya yang ditulisnya.


Mas Sigit sesungguhnya teman baru. Teman yang kita jumpai di acara perayaan hebat ditahun baru ‘Art for Change’ yang diusung teman-teman dari Lontart Galery. Sungguh kami bahagia sebab acara yang sederhana ini turut hadir seniman muda yang menginisiasi gelaran keren di tahun baru kemarin. Pada kesempatan yang baik di acara kecil Unusually, malam itu saran atau pandangan tentu diharapkan dari Mart Sakues dan Kae Yusuf sebagai harapan memperkaya wacana dan merawat tali silaturahmi.

Menjelang persiapan.

Keluarga Kecil Unusually berawak beberapa remaja dan pemuda setempat dan bermarkas di Kampung Air. Unusually merupakan usaha rumahan penyablonan yang dinahkodai Amir Hamsa.

Awalnya Hamsa tidak membayangkan membentuk keluarga kecil Unusually, tetapi justru terbentuk begitu saja atas ketertarikan dari kemauan dari beberapa anak remaja setempat yang ingin turut ambil bagian didalamnya. Mendengar cerita darinya, ketika diminta dibikinkan sablonan baju, pemesan diajak juga belajar bersama dalam pengerjaannya. Semacam workshop kecil menyablon.

Hal yang menarik menurutku, produk dari Unusually punya khasnya sendiri. Selain karya sesuai pesanan yang cenderung diminta dari anak-anak remaja dan pemuda setempat, terbitan desain tipografinya merupakan kosakata yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Ini semacam mendokumentasikan fenomena lisan melalui produk kaos. ‘Kambote’ misalnya. Salahsatu lisan sehari-hari yang pernah ada yang direkam dalam karyanya yang sudah agak jarang terdengar ditelinga dan keluar dari mulut kita lagi.

Selain acara kecil yang digelar keluarga kecil Unusually ataupun kegiatan positif apapun, seperti yang digelar meriah dari teman-teman Lontar Galery, sebagai orang biasa, jika saya boleh berharap lebih upaya positif apapun itu semoga terus tumbuh dan jalan terus.

Oh iya, jangan lupa jika kamu ingin punya baju kaos dengan desain sesukamu, berkunjunglah ke Gang Kiwi di Kampung Air. Kamu akan temui kak Hamsa dan keluarga kecil Unusually yang baik hatinya menerimamu dengan senang hati. Ayok bikin baju fovoritmu disana yak. (:

Iklan

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s